Rasa Sayang, UNGKAPKAN atau TIDAK ??????

•Juni 3, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sering kali kita mendengar seseorang menyatakan rasa sayangnya kepada orang yang disayangi, tapi anehnya, kenapa orang yang disayanginya itu terkadang merasa seperti tidak sedang disayangi. Selain itu banyak juga orang yang tidak (mau) menyatakan rasa sayangnya untuk orang lain, tapi malah mereka bisa merasakan rasa sayang yang diberikan kepadanya walau tanpa harus diungkapkan. Banyak orang yang (katanya) sayang kepada seseorang, tapi sikap dan perlakuan terhadap orang yang disayanginya terkadang tidak mencerminkan rasa sayangnya itu sendiri. Namun ada juga orang yang (mengaku) tidak sayang, tapi perlakuannya malah seperti orang yang sangat menyayangi orang tersebut.

 

Sungguh aneh, tapi itulah kenyatannya. Banyak kata sayang terucap, tapi banyak juga rasa sakit yang diakibatkan pengungkapan rasa sayang tersebut. Haruskah rasa sayang itu diungkapkan. Untuk apa, kalau ternyata implementasinya tidak sama dengan rasa sayang yang diungkapkan. Tapi haruskah ia dipendam. Bukankah memendam rasa sayang juga bukan suatu hal yang menyenangkan. Lalu apa yang harus dilakukan.

 

Memendam rasa sayang memang suatu hal yang sangat memberatkan dan tentu saja menyakitkan. Di saat kita telah menemukan orang yang kita sayang, tapi dia tidak mengetahui dan menyadari rasa sayang yang kita miliki untuknya. Namun kita juga tak punya keberanian untuk mengungkapkannya, karena mungkin takut orang tersebut berubah sikapnya, atau mungkin takut, kalau rasa sayang itu diungkapkan, orang tersebut tidak mau menerimanya dan akhirnya pergi menjauh.

 

Bagi sebagian orang yang amat menghawatirkan terjadinya hal demikian tentu akan sangat menjaga perasaan orang yang disayanginya. Bahkan tak jarang ada orang yang rela memendam rasa itu bertahun-tahun untuk bisa tetap menyayangi orang tersebut, walau tanpa harus memilikinya. Dengan dasar pemikiran yang menyatakan bahwa cinta tak harus memiliki, orang tersebut tentu akan lebih memilih memendam rasa sayang  itu, ketimbang harus kehilangan orang yang (sangat) disayanginya. Dengan hati-hati dia menjaga rasa sayang itu agar tak diketahui oleh orang lain, bahkan sering kali ia melirik ke arah sang pujaan hati dengan maksud ingin membantu meringankan bebannya dan menghiburnya walau hanya dengan sedikit senyuman. Namun karena ketidakberaniannya, ia lebih memilih diam dan hanya memperhatikan sang pujaan hati dari kejauhan sambil berharap agar suatu hari nanti sang pujaan hati bisa menyadari getaran cinta yang selama ini dipendam untuknya.

 

Bagi sebagian orang mungkin hal itu berlaku, tapi tidak bagi sebagian yang lain. Ada juga sebagian orang yang lebih memilih mengungkapkan rasa sayangnya terhadap orang yang dicintainya daripada ditahan atau dipendam. Dengan alasan apapun, mereka seakan menolak akan hal tersebut. Dengan dasar pemikiran cinta tak bisa menunggu, mereka rela melakukan berbagai macam cara untuk mengungkapkan rasa sayangnya kepada pujaan hatinya. Mungkin kita semua masih ingat tentang reality show yang pernah ditayangkan oleh salah satu tv swasta di negeri ini, dimana dalam acara tersebut digambarkan bahwa berbagai macam cara dilakukan seseorang untuk mengungkapkan rasa sayangnya. Mulai dari rela lari berkilo-kilo meter, bahkan ada yang rela menunjukkan rasa sayangnya di depan umum dengan membuat spanduk besar, dan segala hal yang mungkin (kalau difikir-fikir) lebih ekstrim dari itu. Semuanya dilakukan orang-orang tersebut hanya untuk mengungkapkan kata “ SAYANG (CINTA)”. Mereka rela melakukan hal tersebut, hingga tidak peduli terhadap omongan orang yang mungkin menganggap mereka ‘sudah gila’, ‘tidak normal’, ‘aneh’, ‘kurang kerjaan’, dan banyak hal lainnya yang intinya mengejek keberanian mereka, meski tak sedikit juga orang yang salut dengan keberanian mereka melakukan hal tersebut. Tapi mereka tetap tidak peduli, seakan tujuan mereka hanya 1, mendapatkan orang yang disayanginya atau tidak sama sekali. Sebagian dari mereka memang ada yang diterima cintanya, dan tak sedikit juga yang ditolak. Namun walaupun gagal setidaknya hal tersebut tetap lebih baik daripada tidak dilakukan sama sekali. Yang nantinya mereka akan belajar banyak dari kejadian pahit tersebut sehingga di kemudian hari bisa membuat mereka lebih dewasa dalam bersikap dan bertindak.

 

Itu merupakan salah satu contoh dari beberapa kejadian tentang betapa mengungkapkan rasa sayang itu merupakan hal yang susah-susah mudah. Susah karena (mungkin) kurang keberanian untuk melakukannya dan butuh mental yang cukup kuat untuk mengungkapkannya. Mudah bagi orang yang (mungkin) terbiasa melakukannya hingga tak canggung lagi mengungkapkannya. Tapi apakah cukup sampai di situ perjalanan cinta dan hanya selesai saat ia telah diungkapkan ???……

 

Ada sebuah ungkapan yang menarik mengenai cinta, yaitu sebuah ungkapan yang menyatakan “cintamu hanya di bibir saja.” Bagi saya, hal ini sungguh lucu sekaligus menarik untuk dibicarakan. Bagaimana mungkin seseorang yang telah mengungkapkan rasa sayang dan cintanya dengan berbagai macam cara, tapi setelah beberapa lama, sang pasangan mengatakan bahwa cintanya hanya di bibir saja, rasa sayangmu hanya gombal belaka. Apakah rasa sayang ada masanya, seperti makanan yang ada masa berlakunya…..

 

To be continue… ^_^

Catatan Akhir Pemuda Tobat (1)

•Juni 3, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Semua ini bermula dari sebuah perasaan halus yang setiap saat selalu berselubung merasuk kalbu. Semakin lama, perasaan itu terlihat seakan nyata bagiku. Perasaan yang mungkin ditakuti oleh sebagian besar manusia, perasaan akan segera datangnya kematian bagiku. Aku coba mengalihkan perasaan itu menuju hal yang lebih positif, hingga aku bisa lebih mendekat kepada Sang Pencipta. Selalu ku latih diri ini untuk bisa mengalihkan perasaan itu dengan bermacam ritual ibadah yang biasa dilakukan, namun semua itu tak berarti apa-apa buatku, perasaan itu semakin besar kurasakan menghujam ke dalam jiwaku dan selalu terbayang di fikiranku. Awalnya, aku mencoba untuk mengacuhkannya demi hanya sekedar menikmati hidupku yang hanya pas-pasan ini. Namun semakin ke sini, aku semakin menyadari bahwa, mungkin ini sudah waktunya bagiku untuk mengabdi pada-Nya. Dia yang selalu ku acuhkan perintahnya. Dia yang tak pernah kuindahkan peringatan dan laranganNya. Dan Dia, yang senantiasa selalu memperhatikanku, walau sebenernya Dia sudah tau seperti apa buruknya diriku di hadapan-Nya. Dialah Allah Jalla Jalaaluh. Tuhan, yang senantiasa berlaku baik padaku sekalipun tak sedikitpun perintah-Nya yang ku laksanakan. Bahkan tak jarang larangan-Nya seringkali ku langgar hanya untuk sekedar bersenang-senang. Tuhan yang selalu memenuhi semua kebutuhanku sekalipun tak pernah diri ini bersyukur atas segala kucuran ni’mat yang senantiasa dilimpahkan-Nya padaku. Tuhan yang amat peduli terhadap keselamatan dan keberhasilan hamba-Nya, namun tak sedikitpun dari hamba itu yang pernah, bahkan mau, memikirkan hal itu. Tapi Allah tidak membutuhkan itu semua. Yang Dia inginkan hanyalah agar si hamba bahagia di Dunia dan di Akhirat, hingga akhirnya bisa menempati Surga-Surga yang telah disediakan bagi hamba-hamba yang peduli dan mencintai-Nya setulus hati.

Ya Allah…

Mungkin aku memang tidak pernah taat pada perintah-Mu. Bahkan tak jarang perintah-Mu ku langgar hanya demi menikmati kebahagiaan semu di dunia. Tapi sungguh Ya Rabb, aku ingin sekali mendekat pada-Mu, mengenal-Mu lebih dekat, dan mencintai-Mu setulus hati ini. Aku selalu berdoa pada-Mu memohon agar aku bisa mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal (perbuatan) yang bisa membawa diri ini untuk bisa mencintai-Mu. Bahkan aku pun meminta pada-Mu untuk menjauhkan diri ini dari segala hal yang bisa menjauhkan diri ini daripada-Mu, Ya Allah. Semua itu ku lakukan hanya untuk mengharap ridho dan restu-Mu Ya Rabb. Engkaulah satu-satunya pegangan hidup seluruh umat manusia yang tak pernah berubah dan akan tetap abadi selamanya. Engkau harapan bagi setiap makhluk yang berharap, dan Engkau penolong bagi setiap orang yang meminta pertolongan. Engkau Pemilik langit dan bumi beserta isinya. Engkau juga penguasa di hari di mana tidak ada tempat bernaung selain naungan dari-Mu Ya Rabb. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan. Wahai Raja dari segala raja, wahai Sang Pemilik Nama-Nama Yang Indah, wahai Sang Empunya Kuasa dan Kemuliaan, aku mohon, tunjukan aku menuju jalan yang lurus Ya Hakiim, jalan orang-orang yang Kau beri ni’mat dan keberkahan, bukan jalan orang-orang yang Kau murkai dan Kau sesatkan. Di waktuku yang tak banyak ini aku mohon pada-Mu Ya Allah, terimalah segala amal perbuatanku wahai Tuhanku. Ampuni segala dosa-dosaku dan maafkanlah seluruh kesalahanku. Andai tak sedikitpun Kau melirik padaku, andai tak sekejappun kau tersenyum padaku, dan andai Kau tak menerima semua yang telah ku lakukan untuk sekedar menarik perhatian-Mu, maka niscaya aku termasuk makhluk yang paling merugi di dunia maupun akhirat. Aku mohon Ya Rabb, sudi kiranya kau perkenankan dan Kau kabulkan doa dan harapanku ini.

Ya Allah…

Sampaikanlah dariku salam rindu yang sebesar-besarnya kepada Nabi Muhammad SAW. Sosok yang selalu bersahaja dalam hidupnya walau sebenarnya, kalau dilihat, hidup beliau sungguh jauh dari kemewahan layaknya seorang pemimpin. Seorang makhluk mulia yang karenanya langit bersedih dan “iri” terhadap bumi. Seorang Nabi yang tak pernah dilupakan umat-umatnya sampai akhir zaman. Sekalipun tak pernah mata ini bertatap, dan tak pernah sekalipun telinga ini mendengarnya berucap, serta tak sekalipun dada ini berdetak mendengar langkah kakinya terhentak. Namun semua itu tak mengurangi sedikitpun rasa cinta dan rindu yang senantiasa terlantun lewat kata-kata penuh pujian yang didendangkan dengan indah (shalawat). “Allahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa sayyidinaa wa habibinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad”. Rasa rindu ini begitu besar menghinggapi diri, hingga tak kuasa mata ini menahan linangan air mata yang tiba-tiba menetes sesaat setelah kuakui bahwa ternyata aku bukanlah umatnya yang baik. Aku tak pernah menjalankan sunnahnya, akupun tak pernah mengingatnya sepanjang perjalanan hidupku selama ini. Aku malu bila nanti ditanya “umat siapakah kamu ?”, aku bingung saat harus menjawab “aku umat Muhammad”, sedang selama ini (di dunia), aku tak pernah menyebut-nyebut namanya, akupun tak pernah melaksanakan apa yang dianjurkannya dan meninggalkan apa yang dia tak suka. Aku hanya mengandalkan rasa rindu ini. Rindu tebal yang setiap saat selalu menyelimuti diriku akan indahnya akhir hidupku bila nanti bisa bertemu bertatap muka dengannya. Wahai Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai Allah Yang Maha Mengetahui, engkau tahu apa yang ku rasakan Ya Allah, Kau pun tahu bahwa hati ini sangat merindukannya, bahwa hanya dirinya yang selama ini kurindukan dengan sebesar-besarnya kerinduan. Aku mohon padamu Wahai Allah Yang Maha Bijaksana, jadikanlah Nabi Muhammad mau mengakui dan menerima aku sebagai umatnya. Buatlah Nabi Muhammad mau memberikan syafa’atnya buatku, ditengah banyaknya kemaksiatan yang telah aku perbuat, di tengah kehinaan yang selama ini telah kulakukan Ya Allah. “Maghfiratuka awsa’u min dzunubinaa wa rahmatuka arjaa ‘indanaa min a’maalinaa” ampunan-Mu seluas langit dan bumi Ya Allah, dibandingkan dengan dosa-dosaku, ampunan-Mu jauh lebih luas Ya Rabb, oleh karena itu Rahmat-Mu, Kasih-Mu, dan Kebijaksanaan-Mu sungguh sangat aku harapkan dibandingkan dengan amal perbuatanku yang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluasan Rahmat-Mu. Kabulkan permohonan hamba Ya Allah. Perkenankan doa hamba dan sampaikan salam rindu tebal hamba pada kekasih-Mu Rasulullah Muhammad SAW, Ya Dzal Jalali wal Ikram.

Ya Allah…

            Kepada dua makhluk-Mu yang sangat hamba muliakan. Sepasang kekasih yang saling mencintai karena-Mu. Dari keduanya lahir tiga (3) orang hamba yang hanya bisa menyusahkan mereka. Dua orang yang karena doanya, Kau lindungi kami (aku dan kedua saudaraku) dari kejamnya dunia. Dengan kasih sayangnya, Kau kasihani kami, meski sering kali kami menghinanya. Dengan linangan air matanya, Kau bimbing kami untuk menjadi anak yang sholeh bagi keduanya. Dua orang yang kami sebut, ayah dan ibu. Ayah, yang tak pedulikan lelah tubuhnya, hanya untuk sekedar mencari karunia-Mu agar kami dapat makan di hari esok. Ayah, yang kerut di wajahnya tampak sangat jelas, menandakan beratnya ia bekerja, hanya untuk membahagiakan kami semua. Ayah, yang selalu keras dalam didikannya, semata-mata agar kami bisa lebih baik darinya. Ayah, yang tak henti-hentinya setiap malam berdoa, agar kami bisa membahagiakan ibu, saat ia nanti tak ada. Ayah, yang begitu besar cintanya kepada kami, hingga tak jarang hatinya menangis, saat harus memarahi kami yang tak bisa memenuhi harapannya. Walau begitu, ia tak pernah sedikitpun mengeluh akan semua yang telah dihadapinya. Ia tetap terlihat gagah, walau sering kami melihat, berdiri saja ia sudah tak kuat. Ia selalu tersenyum, walau sebenarnya hatinya gundah, hingga ia berucap “Apa lagi yang harus aku lakukan, agar anakkku tak lagi kecewa padaku ?”. Ia selalu terlihat bahagia, tertawa, seakan ia terbebas dari beban yang membelenggunya selama ini. Bagai kapas lembut yang terbang ditiup angin kencang……………

to be Continue…………

Kontribusi Wakaf Bagi Perekonomian Umat

•Juni 14, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Wakaf merupakan salah satu sumber dana yang penting dan besar sekali manfaatnya bagi kepentingan agama dan umat (khususnya Islam). Antara lain untuk pembinaan kehidupan beragama dan peningkatan kesejahteraan umat Islam, terutama bagi orang-orang yang tidak mampu, cacat mental atau fisik, orang-orang yang sudah lanjut usia dan sebagainya yang sangat memerlukan bantuan dari sumber dana seperti wakaf. Bentuk perwakafan di Indonesia untuk kepentingan kesejahteraan umum selain yang bersifat perseorangan, terdapat juga wakaf gotong royong berupa masjid, madrasah, musholla, rumah sakit, jembatan dan sebagainya.

 

Dengan telah ditetapkannya Undang-undang  Nomor  41 tahun 2004 pada tanggal 27 Oktober 2004, maka berbagai permasalahan pokok tentang perwakafan telah memiliki pedoman, arah, tujuan yang lebih memilki kepastian hukum dan kekuatan hukum sehingga fungsi dan tujuan wakaf dapat diwujudkan.

 

Di Indonesia, wakaf pada umumnya berupa benda-benda konsumtif, bukan benda-benda produktif. Seperti masjid, sekolah-sekolah, panti-panti asuhan, rumah sakit dan sebagainya yang langsung digunakan oleh penerima baik orang-orang tertentu maupun masyarakat umum. Pemanfaatan wakaf tanah selain untuk pelayanan tetapi juga untuk tujuan produktif. Pemanfaatan wakaf ini dikelola terlebih dahulu baru kemudian hasilnya diberikan kepada penerima yang telah ditentukan sebelumnya. Wakaf produktif ini lebih berorientasi pada profit.

 

Untuk mengelola wakaf produktif di Indonesia, yang harus dilakukan adalah perlunya pembentukan suatu badan atau lembaga yang khusus mengelola wakaf yang ada dan bersifat nasiaonal yakni Badan Wakaf  Indonesia (BWI). Badan ini diberikan tugas untuk mengembangkan wakaf secara produktif, sehingga wakaf dapaat berfungsi untuk meningkatkan  taraf hidup masyarakat. Tugas utama badan ini adalah memberdayakan wakaf, baik wakaf benda tidak bergerak maupun benda bergerak yang ada di Indonesia sehingga dapat memberdayakan ekonomi umat. Selain itu juga badan ini bertugas membuat kebijakan dan stategi pengelolaan wakaf produktif, mensosialisasikan bolehnya wakaf benda-benda bergerak  dan sertifikat tunai kepada masyarakat.

 

Adapun program-program yang sudah berjalan di Tabung Wakaf Indonesia yang telah berkontribusi bagi perekonomian umat antara lain :[1]

 

Program Sosial :

1.      Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Rumah sakit mini khusus dhuafa dengan pelayanan 24 jam

2.      SMART Ekselensia, sekolah unggulan (SMP-SMA) bebas biaya untuk keluarga yang tidak mampu yang telah lulus seleksi di setiap provinsi.

3.      Rumah Baca

4.      Institut Kemandirian, lembaga yang mencetak wirausahawaan dari kaum dhuafa

5.      Masjid untuk daerah bencana

 

Program Produktif :

1.      Program Jangka Pendek, kegiatan produktif pemberdayaan ekonomi mikro dengan target memberikan modal usaha kepada pengusaha kecil

·        BMT, bermitra dengan BMT dalam memberikan modal usaha kepada pengusaha kecil. Mitra pertama TWI adalah BMT Beringhardjo di Jogja dan BMT Kopontren Nusya di Tuban

·        Kampoeng Ternak (KT), untuk memberdayakan para peternak kambing di pelosok daerah Indonesia

·        Wakaf produktif untuk daerah terpencil

 

2.      Program Jangka Menengah

Yaitu terciptanya lapangan kerja, penguatan ekonomi umat dan profit dari usaha yang akan digunakan untuk kegiatan social, keagamaan atau umum

·        Bakmi Lenggara

·        Kluster Madani, kawasan/kluster yang melakukan aktifitas ekonomi dan pembinaan keagamaan.

 

3.      Program Jangka Panjang berupa saham, pengelolaan dilakukan sesuai syariat untuk mendapatkan keberkahan dan deviden yang dapat digunakan untuk kemaslahatan umat.

 

 

 

 

 

 

 



[1] Hasil wawancara dengan TWI 11 April 2004

Manfaat Sistem Informasi Bagi Perkembangan Perbankan/Asuransi

•Juni 14, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Geliat industri berasaskan prinsip syariah yang sebelumnya hanya berlaku di beberapa kawasan serta dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat atau kelompok tertentu, kini telah menjadi fenomena global yang harus dicermati. Mengapa syariah menjadi sebuah fenomena global, sudah pasti jawabannya selain dari makin diterimanya prinsip syariah sebagai sistem alternatif yang adil dan bermanfaat adalah berkat pesatnya faktor kemajuan teknologi informasi.

           

            Perkembangan perbankan/asuransi syariah di Indonesia, tentu tidak terlepas dari semakin tingginya teknologi yang digunakan. Sebelum ini terjadi, banyak masyarakat meragukan bahwa bank/asuransi syariah dapat diterima sebagai bank/asuransi yang modern dan bisa bersaing dengan bank-bank atau asuransi-asuransi konvensional yang sudah ada. Dan berangkat dari keraguan itu, bank dan asuransi syariah mencoba memantapkan langkahnya untuk terus maju dan mengembangkan dirinya dengan memanfaatkan teknologi yang kian hari kian terasa manfaatnya.

 

            Perlahan tapi pasti bank dan asuransi syariah mulai memenuhi harapan masyarakat Indonesia dengan menghadirkan produk-produk secara eksklusif dan dikemas dengan frame yang lebih baik yang membuat masyarakat merasa yakin untuk menginvestasikan uangnya di bank serta asuransi syariah. Untuk melakukan itu semua, tentu didukung dengan teknologi dan jaringan yang terpadu, dan bank serta asuransi syariah sudah membuktikan hal itu dengan dukungan teknologi e-Banking, yang menghadirkan banyak konten diantaranya SMS Banking, Mobile Banking dan Internet Banking yang seluruhnya beoperasi selama 24 jam sepanjang tahun.

 

            Kini, ditambah dengan Layanan Syariah yang dapat dilakukan di kantor cabang konvensional, atau lebih dikenal dengan Office Chaneling, bank syariah menjadi lebih mudah untuk dijumpai oleh masyarakat, terlepas dari masih sedikitnya Bank Umum Syariah yang ada saat ini.

 

            Dengan jaringan yang terpadu serta didukung dengan teknologi yang baik, tentu akan membuat bank serta asuransi syariah terus berkembang dan semakin bisa bersaing dengan bank-bank dan asuransi yang sudah ada (konvensional) dan membuktikannya kepada masyarakat bahwa bank syariah serta asuransinya merupakan pilihan yang tepat.

Perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia

•Juni 14, 2008 • 1 Komentar

Sudah banyak terobosan yang telah dilakukan oleh pengembang konsep ekonomi Islam yang semuanya bermuara untuk memajukan dunia perbankan syariah di Indonesia. Di samping itu, yang tidak bisa diabaikan adalah peran serta pemerintah, terutama dalam menciptakan regulasi. Mulai dari MUI yang telah mengeluarkan fatwa tentang bunga bank haram, kemudian disusul dengan beberapa kebijakan yang dikeluarkan BI, melalui Direktorat Perbankan Syariahnya, diantaranya telah menelurkan kebijakan office chanelling bagi bank konvensional yang telah membuka Unit Usaha syariah (UUS) untuk memberikan pelayanan transaksi syariah bagi masyarakat luas.

 

            Sejak adanya Bank Muamalat pada tahun 1991 berarti menjadi tonggak awal perkenalan umat Islam Indonesia dengan bank syariah. Sampai akhir tahun 2006 telah ada 3 bank umum syariah, 19 Unit Usaha Syariah (UUS), 493 kantor cabang syariah dan 105 BPRS. Belum lagi lembaga keuangan mikro syariah atau Baitul Mal wa Tamwil (BMT) yang tersebar hampir di setiap propinsi. Sebuah prestasi yang menggembirakan bagi perkembangan lembaga keuangan syariah di Indonesia.

 

   Namun eksistensi perbankan syariah tergolong masih belia (shaghir). Umurnya masih belasan tahun. Jika ada orang yang membandingkan dengan umur bank konvensional, perbandingan semacam ini tidaklah seimbang. Karena, dari sisi umur, bank konvensional sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Sehingga wajar, jika masyarakat lebih terbiasa bertransaksi dengan bank konvensional. Dari sini, perlu ada kerja keras untuk mendakwahkan bank syariah ke masyarakat luas. Dakwah ini termasuk bagian dari edukasi ke masyarakat agar mengenal dan bergabung dalam barisan orang-orang yang mempraktekkan ekonomi syariah.

 

            Salah satu sosialisasi perbankan syariah yang dapat dilakukan adalah melalui lembaga pendidikan yang sudah ada, yaitu dengan memperkenalkan materi pelajaran perbankan syariah sebagai bagian dari muatan lokal. Baik lembaga pendidikan yang dikelola oleh Departemen Agama atau Departemen Pendidikan.

           

            Sampai saat ini hampir sebagian besar perguruan tinggi baik negeri maupun swasta telah membuka jurusan/program studi ekonomi Islam dan kajian atau diskusi-diskusi mengenai ekonomi Islam, seperti UIN, UI, IPB, ITB, Universitas Trisakti, STIE Tazkia, STIE SEBI, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi lainnya. Keadaan itu tentu akan sangat membantu memperkenalkan perbankan syariah kepada masyarakat luas secara lebih komprehensif.

 

 

Hello world!

•Juni 11, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.