Sering kali kita mendengar seseorang menyatakan rasa sayangnya kepada orang yang disayangi, tapi anehnya, kenapa orang yang disayanginya itu terkadang merasa seperti tidak sedang disayangi. Selain itu banyak juga orang yang tidak (mau) menyatakan rasa sayangnya untuk orang lain, tapi malah mereka bisa merasakan rasa sayang yang diberikan kepadanya walau tanpa harus diungkapkan. Banyak orang yang (katanya) sayang kepada seseorang, tapi sikap dan perlakuan terhadap orang yang disayanginya terkadang tidak mencerminkan rasa sayangnya itu sendiri. Namun ada juga orang yang (mengaku) tidak sayang, tapi perlakuannya malah seperti orang yang sangat menyayangi orang tersebut.
Sungguh aneh, tapi itulah kenyatannya. Banyak kata sayang terucap, tapi banyak juga rasa sakit yang diakibatkan pengungkapan rasa sayang tersebut. Haruskah rasa sayang itu diungkapkan. Untuk apa, kalau ternyata implementasinya tidak sama dengan rasa sayang yang diungkapkan. Tapi haruskah ia dipendam. Bukankah memendam rasa sayang juga bukan suatu hal yang menyenangkan. Lalu apa yang harus dilakukan.
Memendam rasa sayang memang suatu hal yang sangat memberatkan dan tentu saja menyakitkan. Di saat kita telah menemukan orang yang kita sayang, tapi dia tidak mengetahui dan menyadari rasa sayang yang kita miliki untuknya. Namun kita juga tak punya keberanian untuk mengungkapkannya, karena mungkin takut orang tersebut berubah sikapnya, atau mungkin takut, kalau rasa sayang itu diungkapkan, orang tersebut tidak mau menerimanya dan akhirnya pergi menjauh.
Bagi sebagian orang yang amat menghawatirkan terjadinya hal demikian tentu akan sangat menjaga perasaan orang yang disayanginya. Bahkan tak jarang ada orang yang rela memendam rasa itu bertahun-tahun untuk bisa tetap menyayangi orang tersebut, walau tanpa harus memilikinya. Dengan dasar pemikiran yang menyatakan bahwa cinta tak harus memiliki, orang tersebut tentu akan lebih memilih memendam rasa sayang itu, ketimbang harus kehilangan orang yang (sangat) disayanginya. Dengan hati-hati dia menjaga rasa sayang itu agar tak diketahui oleh orang lain, bahkan sering kali ia melirik ke arah sang pujaan hati dengan maksud ingin membantu meringankan bebannya dan menghiburnya walau hanya dengan sedikit senyuman. Namun karena ketidakberaniannya, ia lebih memilih diam dan hanya memperhatikan sang pujaan hati dari kejauhan sambil berharap agar suatu hari nanti sang pujaan hati bisa menyadari getaran cinta yang selama ini dipendam untuknya.
Bagi sebagian orang mungkin hal itu berlaku, tapi tidak bagi sebagian yang lain. Ada juga sebagian orang yang lebih memilih mengungkapkan rasa sayangnya terhadap orang yang dicintainya daripada ditahan atau dipendam. Dengan alasan apapun, mereka seakan menolak akan hal tersebut. Dengan dasar pemikiran cinta tak bisa menunggu, mereka rela melakukan berbagai macam cara untuk mengungkapkan rasa sayangnya kepada pujaan hatinya. Mungkin kita semua masih ingat tentang reality show yang pernah ditayangkan oleh salah satu tv swasta di negeri ini, dimana dalam acara tersebut digambarkan bahwa berbagai macam cara dilakukan seseorang untuk mengungkapkan rasa sayangnya. Mulai dari rela lari berkilo-kilo meter, bahkan ada yang rela menunjukkan rasa sayangnya di depan umum dengan membuat spanduk besar, dan segala hal yang mungkin (kalau difikir-fikir) lebih ekstrim dari itu. Semuanya dilakukan orang-orang tersebut hanya untuk mengungkapkan kata “ SAYANG (CINTA)”. Mereka rela melakukan hal tersebut, hingga tidak peduli terhadap omongan orang yang mungkin menganggap mereka ‘sudah gila’, ‘tidak normal’, ‘aneh’, ‘kurang kerjaan’, dan banyak hal lainnya yang intinya mengejek keberanian mereka, meski tak sedikit juga orang yang salut dengan keberanian mereka melakukan hal tersebut. Tapi mereka tetap tidak peduli, seakan tujuan mereka hanya 1, mendapatkan orang yang disayanginya atau tidak sama sekali. Sebagian dari mereka memang ada yang diterima cintanya, dan tak sedikit juga yang ditolak. Namun walaupun gagal setidaknya hal tersebut tetap lebih baik daripada tidak dilakukan sama sekali. Yang nantinya mereka akan belajar banyak dari kejadian pahit tersebut sehingga di kemudian hari bisa membuat mereka lebih dewasa dalam bersikap dan bertindak.
Itu merupakan salah satu contoh dari beberapa kejadian tentang betapa mengungkapkan rasa sayang itu merupakan hal yang susah-susah mudah. Susah karena (mungkin) kurang keberanian untuk melakukannya dan butuh mental yang cukup kuat untuk mengungkapkannya. Mudah bagi orang yang (mungkin) terbiasa melakukannya hingga tak canggung lagi mengungkapkannya. Tapi apakah cukup sampai di situ perjalanan cinta dan hanya selesai saat ia telah diungkapkan ???……
Ada sebuah ungkapan yang menarik mengenai cinta, yaitu sebuah ungkapan yang menyatakan “cintamu hanya di bibir saja.” Bagi saya, hal ini sungguh lucu sekaligus menarik untuk dibicarakan. Bagaimana mungkin seseorang yang telah mengungkapkan rasa sayang dan cintanya dengan berbagai macam cara, tapi setelah beberapa lama, sang pasangan mengatakan bahwa cintanya hanya di bibir saja, rasa sayangmu hanya gombal belaka. Apakah rasa sayang ada masanya, seperti makanan yang ada masa berlakunya…..
To be continue… ^_^
